Puisi: Dari Goresan Kata ke Secuil Sadar Jiwa
Kususuri kata demi kata, racikan
kalimat dan hidangan narasi deskripsi
yang tersaji
Terasa olehku kuatnya goresan pena itu
Tak bisa tertampik
Ia hasil dari ketekunan itu
Latihan setiap hari setiap waktu tanpa
izinkan jemu bertahan singgah di rumah
impiannya itu
Guratan guratan kata
Tertoreh di sana
Penuh makna
Membawa pesan dalam dari semesta
raya
Atas ketidakadilan yang terluka bahkan
terbunuh paksa pekikannya
Kegetiran, kesedihan, luka mendalam
tertuang indah
Dalam sebuah fiksi
Ya, kami bisa apa
Mungkin begitu kata mereka
Sudah terlalu banyak kezaliman ternetra
Teriakan kami terbungkam seketika
Atau nyawa menjadi taruhannya
Di sudut inilah kami bebas bercerita
Atas hilangnya nurani
Atas terbunuhnya kemanusiaan
Atas kehilangan yang kami alami
Orang-orang tersayang
Yang bahkan tidak paham
Mengapa mereka harus mati
Atas salah apa?
Atas dosa apa?
Terkubur dalam diam
Disiksa tanpa paham
Semesta menjadi saksi
Semua kezaliman yang terjadi
Dan saatnyalah sekarang ini
Alam menagih balasan atas apa yang
terjadi
Setelah sekian lama bungkam
Menahan diri atas apa yang terjadi
Ulah manusia semakin menjadi
Alam pun memohon pada Ilahi Rabbi
Beri kami ganti
Manusia yang lebih berbudi
Mau serta mampu menghargai
Semua makhluk ciptaan-Mu ya Rabbi
Tolong ya Ilahi
Perbaiki alam ini
Yang sedemikian rusak karena ulah
makhluk terbaik-Mu, master piece c
iptaanMu
Biarkan kugulung mereka dengan
tsunami
Kujungkirbalikkan mereka dengan
gempa bumi
Aku sudah muak dengan ulah penghuni
yang tak tahu diri
Wabah pun datang menghantam tanpa
ragu lagi
Mengurung manusia seperti mereka
mengandangkan hewan saudara tuanya
Manusia tidak juga sadar diri
Tak jua instropeksi
Mereka berteriak-teriak
Kami tak tahan lagi
Kami tak mau terkurung lagi
Biarkan kami kembali
Keluar dan beraktivitas seperti dulu lagi
Pandemi pun mereda
Tapi buah kezaliman
Juga keengganan tunduk berserah pada
Sang Rabbi
Akan tetap jatuh ke bumi
Yang tak kan disukai
Manusia tak tahu diri
Komentar
Posting Komentar