Cerpen: Pertemuan Dhuha

"Apakah karena sudah wafat, Bapak lebih banyak tahu dan paham hidup sekarang?" Aku bertanya sembari memandang riak air di kolam. Saat masalah hidup datang bertubi, rindu datang dan sosok itu pun menemuiku, anak kesayangan yang durhaka sembari membagi secercah harapan, penghapus kerinduan dan obat bagi penyesalan. "Setidaknya aku sudah lebih berpengalaman darimu, Nak.” Lelaki tujuh puluh tahunan lebih itu memandangku. Tatapannya seolah menunjukkan bahwa ia sudah lelah dengan segala ngeyel-ku. Meski pasti ia sudah sering bertemu dengan banyak murid sepertiku di sekolah yang diasuhnya dulu, bertahun silam. Satu sekolah menengah atas swasta yang terkenal dengan kebandelan siswanya. "Allah memaksa kita hidup, Bapak. Dengan pemberian yang berbeda-beda dan segala aturan-Nya. Aku ... aku merasa sedang tidak suka dengan semua itu sekarang. " "Hapus prasangka, semua prasangkamu pada-Nya, Nduk. Prasangka karena kebodohan, kebelumtahuan dan kebelumpahama...