Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

Opini: Melabeli Diri Penulis Pemula, Why Not?

Gambar
Hidup adalah sebuah perjalanan - kalimat bijak entah dari siapa lupa, maaf. Penulis pemula. Saya tidak malu dan ragu mengakui diri sendiri sebagai pemula.  Toh, nyatanya puisi saya masih aneh dan wagu. Coretan berisi luapan emosi dan pembelajaran tentang imajinasi yang simpel. Cerpen saya? Jangan ditanya. Kadang atau seringkali ketika mentok, mubal kepala, saya searching cerpen maestro sastra. Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma misalnya dan belajar mengamati struktur cerpen mereka. Setelahnya, saya kemudian gunakan kerangka cerita mereka tuk membuat kisah saya sendiri. Cerpen Dhuha lahir dari teknik ini. Istilahnya copy of the master? Sejarahnya copy of master adalah sebutan untuk pelukis Cina yang sedang belajar melukis. Mereka diberi tugas untuk meniru lukisan mastah sampai benar-benar mirip. Di tulisan, tentu saja struktur, kerangkanya yang ditiru, ceritanya besutan sendiri. Kecuali mau disebut plagiator. Semisal Cerpen Dhuha. Itu idenya dari cerpen Putu Wijaya. Saya lupa judulny...

Opini: 5 Cara Temukan Ide Tulisan

Gambar
Cara mencari ide? Saya tidak sadar bagaimana proses terjadinya. Tapi begitu berniat bener jadi penulis, seakan ide itu ada saja, tak habis-habis. Alhamdulillah. Darimana saja ide itu?  #1 Dari lingkungan sekitar Ketika pagi hari, mendengar kicau burung tetangga atau burung yang terbang kesana kemari di pohon tanah lapang depan rumah, muncul ide deskripsi tanah lapang. Itu wujud rasa syukur karena masih ada lahan luas di depan rumah yang bisa digunakan untuk banyak aktivitas.  Kegiatan anak-anak di sekitar tanah lapang, di daerah perumahan nasional sempat memicu ide buku serial kisah anak perumahan. Karena saya melihat, lingkungan dan tipologi kami berbeda dibanding mereka yang tinggal di dekat laut atau gunung misalnya.  #2 Dari kejadian yang dialami sehari-hari Mengantar jemput, menemani ibu kontrol dan fisioterapi di RS, membuat saya menulis tentang kondisi RS dari sudut pandang seorang pasien atau keluarganya.  Sumpah, ada banyak cerita, banyak pasien yang sukare...

Opini: Beneran Kenal?

Gambar
  Aku pikir, dia termasuk sosok pemimpin yang baik. Ramah, mengerti, paham serta peduli dengan rakyat yang dipimpinnya.  Ternyata, aku kembali salah. Lagi, lagi karena kurang informasi. Astaghfirullah. Pagi ini, aku membaca di salah satu akun penulis terkenal di negeri sebelah, negeri tanda tanya. Isinya tentang cuitan salah seorang pejabat daerah di negeri tersebut yang kemudian dihapus.  Kenapa cuitan itu dihapus? Besar kemungkinan karena tercantum nama lembaga sosial pembagi zakat kelas nasional di sana. Sementara sang pejabat menyebut diri beliau – saya– sebagai pemberi sumbangan. Dan yang disumbang adalah kader partai tertentu.  Nah, muncul banyak prasangka jadinya kan? Saya itu siapa? Sebagai pribadi, kader partai atau pejabat daerah? Beliau juga saat penyerahan sumbangan dalam rangka menjalankan peran yang mana? Mestinya untuk setiap peran, ada juga pengalokasian dana yang berbeda kan? Agar tidak terjadi kerancuan dana yang menyebabkan ketidakberkahan bahkan k...

Opini: Sate Ayam

Gambar
  Nafsu ibarat anak kecil yang selalu merengek untuk dituruti keinginannya. Untuk itulah kita perlu menyapih dan mendidiknya agar menjadi dan selalu muthmainahlah ia. Itu satu penggal nasihat ustadz yang saya ingat lagi setelah kasus beda pendapat tentang medsos dan platform menulis. Yang teringat kemudian adalah contoh tentang penyapihan nafsu. Riyadhoh, latihan fisik dan mental agar terbiasa hidup dalam taat adalah sebutan lainnya.  "Coba kalian beli makanan favorit, terfavorit malah kalau bisa." Ustadz mulai penjelasannya.  "Apa kira-kira makanan favorit itu? Sate ayam misalnya. Belilah sate saat lapar-laparnya. Kalian sajikan ia di piring, rasakan baunya yang menggoda, bayangkan betapa sedap sate itu sampai ludah tertelan dengan sendirinya. Setelah itu? Kalian berikan sate itu ke orang lain." Ustadz tersenyum mengakhiri kisah disusul cengiran kami yang mendengar cerita out of the box itu. Aa Gym pun menasihati hal yang sama. Ketika sedang bermasalah, tidak suka ...

Opini: We are Nothing

Gambar
Pengakuan A Stupid Writer Aih, akhirnya tiba saatnya menguak BTS, behind the scene dari nama pena Naledokin A Stupid Writer. Honest , saya memang sedang menikmati label a stupid writer yang tersemat di belakang kata naledokin. Hehe bisa jadi perlindungan kalau tidak sengaja salah atau ketika ndak tahu. Itu satu momen bahagia tersendiri. Padahal ide itu terinspirasi dari pebasket Denny Sumargo –Densu– yang berjuluk pebasket sombong. Saya belum cari tahu kenapa Densu menyandang predikat itu. Tapi sepertinya dia ndak beneran sombong deh. Itu semacam branding saja, menurut saya.  Akhirnya, terpilihlah a stupid writer sebagai label saya, cara saya membranding diri di tengah jutaan orang yang ingin meraih mimpi sebagai penulis.  Bodoh sendiri sebenarnya sudah ada dalam kata naledokin yang merupakan singkatan hiNA, LEmah, boDOh, misKIN. Ih, kok namanya pilih itu sih, nama kan doa? Adik saya saja sempat protes. Masalahnya, setelah dilanda insecure bertahun-tahun, saya sadar kalau diri...

Opini: Allah, Engkau Sungguh Lucu

Gambar
Allah, Engkau Sungguh Lucu Engkau muliakan orang yang Kau kehendaki. Dan Kau rendahkan orang yang Engkau mau. Aku tertawa sendiri dalam hati. Dunia ini memang lucu, penuh hal paradoks dan seringkali di luar logika, akal manusia, hitung-hitungan atau prediksi. Contoh dan buktinya tersaji di depan mata pagi ini. Saat aku riset lomba blog feature, in-depth news. Dan aku geli sendiri ketika menemui salah satu pemenang bulanannya adalah tulisan singkat, ringkas nan padat dengan dua foto yang menyertai. Dua foto dan dua paragraf saja, kalau aku tidak salah. Aku ingat dua hal ini saat menemukan akhir tulisan dan masih mencari. Sambungan tulisan lainnya mana? Apa hanya ini isi tulisannya? Sembari tak percaya, ku scroll ke bawah. Nihil. Tulisannya benar-benar telah khatam ternyata. Aku sempat tertegun, terpana, terkejut juga. Tapi aku sudah belajar. Bahwa segala sesuatu di dunia, setiap kejadian dan peristiwa yang terjadi, ada Allah di baliknya. Maklum, Ia-lah sang produser sekaligus sutradara,...

Opini: Sastra adalah Anggur, Bacaan Populer adalah Jeruk?

Gambar
Well , setelah tulisan pertama berisi curhat karena tidak rela penulis dan bacaan populer di pandang sebelah mata, masih ada ganjalan di hati. Saya ingat pernah ikut zoom meeting bersama Joko Pinurbo (Jokpin) dan seorang penulis perempuan senior asal Yogya, penyintas kanker. Uniknya, kedua pemateri mengatakan hal yang sama. Sastra telah 'menyelamatkan' mereka. Bersama sastra, keduanya berhasil melalui masa tersulit dalam hidup dengan baik. Jokpin malah mengaku bahwa lewat menulis puisilah beliau bisa melewati masa sulit, berdamai dengan diri sendiri. Ini hal sama seperti yang saya rasakan ketika membaca buku pengembangan diri atau serial kisah inspiratif Chicken Soup for the Soul atau menulis diary di masa-masa sulit. Bedanya hanya yang satu genre-nya sastra, satunya populer. Tapi nyatanya, keduanya memiliki manfaat yang sama, sama-sama berdaya sembuh.  Kalau boleh saya ibaratkan, bacaan populer itu semisal jeruk. Banyak varian dan mudah dijumpai sehingga gampang pula dikonsum...

Puisi: Aku hanya butuh Waktu?

Gambar
  Satu Dua Tiga Empat Aargh, masih banyak tugas belum selesai Berantakan sekali hari ini Sang hati tersenyum  Salahmu sendiri, ejeknya Kacau harimu Karena kacau hubunganmu dengan Rabbmu Berantakan harimu Karena kotor hatimu Tidak, tidak, elakku Waktu Aku hanya butuh waktu Tuk konsentrasi Fokus dengan tugas-tugasku Aku masih belum menerima Berusaha membela Meski tahu sejatinya sia-sia Aku bukan siapa-siapa Tanpa-Nya Pertolongan dan pengaturan-Nya Yogya, Jumat, 9 Desember 2022 pkl 17. 23 WIB Penuh Kepala Mumet aku Jengkel lagi dengan diriku Yang masih juga belum tepati janji Janji ke diri sendiri Sudah hampir habis waktu Belum selesai juga tugas itu Menulis ini itu Pengen kirim ke sini ke situ Aargh, penuh kepalaku Sabar Selesaikan satu per satu Tak cukup waktu? Lanjutkan besok lagi bisa itu Sang hati santai tenangkan diri kala panik hampiri mumet menari di pikiran sendiri Yogya, Jumat, 9 Desember 2022, pkl 17. 15 WIB Foto: Pexels Thank a lot all , maaf bila ada salah-salah , A ...

Opini: Misteri Hati-hati dengan Hati

Gambar
Saya sempat bertanya sendiri dalam hati. Kenapa Allah, kanjeng nabi saw dan para bijak bestari begitu memperhatikan satu hal ini, menjaga perasaan dan hati orang?  Apa istimewa hati dan perasaan manusia sehingga harus dijaga sedemikian rupa?  “Baju yang basah bisa dicuci, Ibunda. Tetapi luka hati ananda saat Ibunda marahi akan menjadi kenangan, berbekas sampai nanti.” Kurang lebih begitulah sabda beliau saw dalam imajinasi saya –dengan gaya Andrea Hirata.  Seorang saleh di kota mana saya tidak ingat -saya membacanya di salah satu buku Salim A Fillah- adalah seorang tukang becak yang hapal 30 juz dengan sepuluh irama berbeda dalam membacanya.  Beliau sangat hati-hati sekali dengan perasaan calon penumpang becaknya. Sang bapak ini –yang putra-putrinya akhirnya dipercaya menjadi pejabat– menerima berapapun ongkos yang ditawarkan calon penumpang.  Misalnya nih ya, sepuluh ribu ditawar lima ribu, beliau terima saking tidak inginnya menyinggung perasaan konsumen. Masy...

Opini: 5 Modal Jadi Penulis Besar

Gambar
Orang 'besar' butuh jiwa, hati besar juga. Kapasitas diri besar untuk berhadapan dengan segala hal yang akan datang padanya. Kurang lebih begitulah nasehat sang alim. Hari ini dijumpai banyak orang ingin menjadi penulis sukses. Sukses di sini diartikan sebagai tulisan, bukunya banyak dibaca dan dibeli orang, best seller dan kemudian terkenal di Indonesia bahkan mancanegara.  Bisa juga penulis sukses berarti menulis di platform menulis, berhasil memikat banyak pembaca dan mendapat reward memuaskan dari sana. Masalah datang saat impian besar tidak atau belum dibarengi dengan jiwa, kapasitas diri yang besar pula. Selain itu, mimpi besar pun memerlukan kerja besar.  Dirangkum dari berbagai sumber, berikut lima modal agar impian menjadi penulis besar tercapai ala Asma Nadia (AN) dan Andrea Hirata (AH). 1. Berani Bermimpi "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu," ujar Ikal, salah satu tokoh dalam Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata. Keberanian adalah salah sat...

PENGABDIAN, Opini Receh Pagi Ini

Gambar
Sebenarnya untuk apa kita hidup? Itu kembali menjadi pertanyaan yang berputar di kepala.  Latar belakang yang berbeda, modal usaha yang berbeda dari mulai perbedaan keturunan, kepemilikan harta, kerupawanan fisik, membuat seakan tidak adil ketika sukses itu hanya terdefinisikan oleh tercukupinya atau bahkan berlimpahnya sandang pangan dan papan, sempurnanya fisik an sich. Startnya saja sudah beda, right? Bagaimana itu bisa dijadikan ukuran kesuksesan? Buku ESG jilid kedua Pak Ary Ginanjar menjawab kegelisahan itu. Hidup adalah pengabdian pada-Nya.  Menjadikan-Nya sebagai pusat hidup. Itu cukup menjadi jawaban dari kegelisahan seorang yang terimbas materialisme abad ini seperti saya. Yang capek sendiri dengan segala tuntutan hidup yang dibuat sendiri atau muncul dari lingkungan mulai lingkungan terdekat maupun lingkungan yang biasa dijumpai.  Ngabdio marang Gusti, mung kuwi uripmu kok isi. Mengabdilah pada Tuhan, hanya dengan itu hidupmu kau isi. Sepertinya ada malaikat ya...